Ekonomi Sumberdaya Hutan
TANAMAN MURBEI SUMBERDAYA HUTAN MULTI
MANFAAT
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut,
M.Si.
Disusun oleh :
Muhammad Rizqi Akbar Zulnun Sitorus
191201067
HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur praktikan ucapkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan
Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan judul “Tanaman Murbei Sumberdaya
Hutan Multi Manfaat”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada pihak pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian paper ini,
diantaranya Dosen penanggung jawab Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, MSi dan
pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian Paper ini.
Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan Paper
ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
demi kesempurnaan Paper ini. Semoga Paper ini memberikan banyak manfaat kepada
para pembaca.
Medan, Maret 2021
Penulis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ekonomi
Sumberdaya Hutan adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi
terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan
harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat
(kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang
termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH
untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat
menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian
ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk
sebesarbesar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah
memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan
masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat.
Menurut
Peraturan Menteri Kehutanan No.P.35/MenhutII/2007 tentang HHBK, bahwa tanaman
murbei merupakan salah satu jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tanaman murbei
hanya dikenal masyarakat sebagai pakan ulat sutera. Namun, atas perkembangan
teknologi dan penelitian menunjukkan bahwa tanaman murbei ternyata memiliki
ragam manfaat baik sebagai bahan pangan, obat-obatan/kesehatan dan lingkungan.
Tanaman murbei dapat tumbuh optimal pada ketinggian 400 - 800 meter di atas
permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 24 - 28°C dan kelembaban udara
antara 65-80%. Kondisi curah hujan optimal bagi tanaman murbei antara 1.500 -
2.500 mm, dan akan tumbuh baik pada daerah yang sepanjang tahun mendapat curah
hujan merata. Kondisi tanah optimal bagi tanaman murbei adalah
pH antara 6,2 - 6,8 dengan solum tanah tebal dan tekstur geluh
berlempung-geluh serta kondisi drainase yang baik (Balai Persuteraan Alam,
2007).
Tanaman murbei
mudah dibudidayakan serta pemeliharaannya tidak rumit, sehingga dapat
diusahakan oleh masyarakat baik di sekitar rumah, kebun maupun di pinggir
sawah. Selain itu, tanaman murbei dapat ditanam secara monokultur dan
tumpangsari dengan tanaman lain dengan syarat tidak ternaungi. Selama ini,
belum banyak dieksplor tentang manfaatnya dalam berbagai bidang seperti pangan,
kesehatan dan konservasi lingkungan. Untuk itu, tulisan ini mengulas tentang
ragam manfaat tanaman murbei mulai dari akar, batang, daun dan buahnya pada
bidang pangan, ternak, kesehatan dan lingkungan.
Tujuan
1. Agar kita dapat mengetahui karakteristik Tanaman
Murbei
2. Agar kita mengetahui multi manfaat Tanaman
Murbei
PEMBAHASAN
Murbei tergolong ke dalam divisio spermatophyta, sub divisio angiospermae, kelas urticales, famili moraceae, genus morus serta spesies mo rus sp. Menurut Balai Persuteraan Alam (2007) tanaman murbei memiliki beberapa nama daerah antara lain: walot (Sunda), malur (Batak), nagas (Ambon) dan t a m b a r a m e rica (Makassar). Selain itu juga memiliki nama asing antara lain: mulberry (Inggris), Sangye (Cina), morera/mora (Spanyol), moreira (Portugis) dan Murier (Prancis). Perkembangbiakan tanaman murbei dapat dilakukan dengan dua cara yaitu generatif (biji) dan vegetatif (bagian tanaman). Di Indonesia cara memperbanyak tanaman murbei yang umum digunakan adalah vegetatif (menggunakan bagian tanaman). Cara ini biasanya lebih praktis dan ekonomis, sehingga tidak membutuhkan keahlian khusus. Beberapa teknik perbanyakan secara vegetatif yang dapat digunakan antara lain: okulasi (menempelkan mata tunas) layerin g (membengkokkan cabang tanaman ke tanah) dengan bagian tengah ditimbun, suetsugi grafting (sambungan pangkal hidup), root grafting (okulasi pangkal lepas) dan stek batang. Stek batang yang paling umum dilakukan masyarakat karena cara ini dinilai paling mudah dilaksanakan dan ekonomis. Murbei merupakan tanaman perdu, tingginya dapat mencapai 6 meter, tajuk jarang, cabang banyak, daun warna hijau tua dengan berbagai bentuk antara lain berlekuk, bulat, bergerigi serta memiliki permukaan yang kasar atau halus tergantung pada jenis tanaman murbeinya.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis tanaman murbei yang banyak dikembangkan oleh masyarakat yaitu Morus alba , M . nigra , M . cathayana , M . australis dan M . macraura (Balai Persuteraan Alam, 2007). Khusus di Sulawesi Selatan, pada beberapa wilayah sentra pengembangan persuteraan alam seperti Kabupaten Enrekang umumnya masyarakat menanam jenis M. indica yang berdaun lebar sedangkan di Kabupaten Soppeng umumnya menanam M . alba , M. multicaulis dan M. nigra (Nurhaedah et al ., 2012). Hal ini mendorong Balai Penelitian Kehutanan Makassar untuk melakukan penelitian pemuliaan tanaman murbei jenis NI (persilangan antara jenis M. nigra dan M. indica ) dan AsI (persilangan M. australis dan M. indica ). Jenis ini memiliki keunggulan dalam hal produksi daun (NI 305,86 gr/tanaman, AsI 292,52 gr/tanaman) dan kandungan nutrisi (Santoso, 2000). Tanaman murbei telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Enrekang sebagai pakan ulat sutera dan pakan ternak. Menurut Soekardi (2015) daun murbei (tanpa menyebut varietas) mengandung zat kimia seperti inokosterone, ecdysterone, lupeol, betasitosterol, rutin, moracetin, cholin, adenin, asam amino, coppre, zink, vitamin, asam klotogenik, asam folat, mioinositol, phytoestrogens, acetone, butylamine dan trigonelline. Hal ini menunjang untuk berbagai pemanfaatan.
Dalimartha, S.
2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia .Jilid 1. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Damayanthi, E., Kusharto. CM., Suprahatini. M., Rohdiana. D. 2007. Diversifikasi Produk Teh Sebagai minuman Kesehatan. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7102. Akses tanggal 1109-2015. jam 15.10.
Hidayat, F,.
2015. Pemanfaatan tanaman daun murbei sebagai pakan ternak ruminansia. Seminar
studi pustaka. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. http://fadlyhidayatilyas.blogspot.co.id/.
Diakses 26 Desember 2015.
Kerjasantaidirumah.
2011. www. gayabunda.com/kesehatan/manfaat buah murbei, 2011. Daun Murbei.
Diunggah Maret 2015.
Menteri
Kehutanan. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No.P.35/MenhutII/2007 tentang
Hasil Hutan Bukan Kayu.
Miladiyah, I.,
Purwono, S. dan Mustofa. 2003. Efek
ekstrak eter (Physalis minima Linn.) setelah pemberian jangka panjang terhadap
kadar gula darah tikus diabetes. Majalah Obat Tradisional vol 8 no 23.
Yogyakarta.https://prisma.lppm.ugm.ac.id/publication/3298. Diakses 26 Desember
2015.
Nurhaedah. 2012.
Kondisi budidaya murbei dan ulat sutera di daerah dataran rendah Kabupaten
Soppeng. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan
Makassar. Peran Iptek dalam Pembangunan Kehutanan dan Kesejahteraan masyarakat
di Wilayah Wallacea.
Nurhaedah,
Suryanto, H., Minarningsih. 2015. Ujicoba hibrid Morus khunpai dan M . indica
sebagai pakan ulat sutera ( Bombyx mori . Linn) Jurnal Penelitian Kehutanan
Wallacea 4 (2): 137-145. Balai Penelitian Kehutanan Makassar.
Nurhaedah, Hayati
N., Zainuddin, Andarias dan Hermawan, A. 2015. Model Pengelolaan Persuteraan
Alam. Laporan Perjalanan Dinas. Balai Penelitian Kehutanan Makassar.
Nugroho, Ponco,
A.R. dan Andy. 2012. Estimasi suplai protein mikroba pada ternak kambing dengan
tingkat konsumsi berbeda berdasarkan ekskresi turunan purin pada urin. Jurnal
Agrisistem (8) 1: 36-43.
Santoso, 2000. Produksi dan kandungan nutrisi daun beberapa varietas murbei. Buletin Penelitian Kehutanan 6(2):48-57. Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.
Yulistiani, D.
2012. Tanaman murbei sebagai sumber protein hijauan pakan domba dan kambing.
Wartazoa 22 (1): 46-52. Balai Penelitian Ternak.Bogor.


Sangat informatif abangda👍
BalasHapusMantapp pak bar
BalasHapusBagus, mudah dipahami 👍
BalasHapusMantap sekali pack
BalasHapusWow.. Ipmressif
BalasHapusWah ternyata murbei adalah tanaman bernilai ekonomis tinggi ya
BalasHapusTerima kasih prof dr Akbar sitorus Shut. M.Si. MNH. THH. KSH . BDH
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat👍
BalasHapusInformatif banget
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMantap sangat informatif
BalasHapus